Jadi Hukuman bagi Predator Seksual terhadap Anak, Apa itu Kebiri Kimia?


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Kejahatan seksual terhadap anak-anak di Indonesia semakin meningkat. Dalam banyak kasus, beberapa bahkan mengalami pemerkosaan.

 

Untuk menangani hal ini, maka Presiden Joko Widodo mengesahkan Peraturan Pemerintahan (PP) Nomor 70 Tahun 2020. Atau juga dikenal sebagai PP Kebiri.

 

Selain Indonesia, beberapa negara di dunia telah lebih dulu menerapkan hukuman kebiri. Denmark adalah negara pertama yang menerapkan hukuman kebiri fisik (bedah) pada tahun 1929, lalu pada tahun 1973 kebiri kimia.

 

Korea Selatan menjadi negara di Asia yang pertama kali menerapkan hukuman kebiri kimia pada tahun 2011.

 

Pengertian kebiri kimia

 

Kebiri adalah upaya menurunkan dorongan seksual, yang biasanya dilakukan pada pelaku kekerasan seksual dengan cara menurunkan kadar hormone androgen, yaitu testosterone (T) pada pria.

 

Testosteron adalah hormon utama yang mempengaruhi hasrat seksual dan fungsi seksual. Beberapa penelitian mengungkapkan, hormon testosterone pada pelaku kejahatan seksual kadarnya lebih tinggi disbanding pria normal bukan pelaku kekerasan seksual.

 

Ada juga penelitian yang menyebutkan ada hubungan antara tingginya kadar hormon androgen dengan sikap agresif pelaku kekerasan seksual.

 

“Sehingga para peneliti mulai melirik kemungkinan penurunan angka kekerasan seksual dengan cara menurunkan kadar testosterone pada jumlah tertentu pada pelaku kekerasan seksual,” terang Apoteker Ika Puspitasari, Ph.D. (Ketua Program Studi Profesi Apoteker, Dosen Farmasi UGM) dalam raman resmi Farmasi UGM, Rabu (6/1).

 

Melalui kebiri kimia, diharapkan nafsu seksual pelaku dapat menjadi sangat rendah atau hilang untuk sementara waktu atau menurut waktu yang diharapkan (dalam masa observasi oleh tenaga medis).

 

Awal mula munculnya praktek penurunan testosterone terjadi pada tahun 1944, saat ahli menemukan bahwa penurunan kadar testosterone berefek cukup signifikan pada pasien pria terapi disetilstilbesterol (DES).

 

Pengaturan Kebiri di Indonesia

 

Dalam PP Nomor 70 Tahun 2020 pasal 1 ayat 2, Tindakan Kebiri Kimia adalag pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain, yang dilakukan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari satu orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih, yang disertaii rehabilitasi.

 

PP Nomor 70 tahun 2020 yang telah ditandatangi Presiden Joko Widodo pada 7 Desember 2020 memuat peraturan tentang:

  • Tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia
  • Pemasangan alat pendeteksi elektronik
  • Rehabilitasi
  • Pengumuan identitas pelaku kekerasan seksual pada anak

 

Tata cara pelaksanaan hukuman kebiri kimia sendiri terdapat dalam pasal 9, meliputi:

 

  1. Pelaku kejahatan seksual dinyatakan layak dihukumi kebiri kimia
  2. Dalam jangka waktu paling lambat 7 hari setelah penetapan, jaksa memerintahkan dokter melakukan tindakan kebiri kimia pada pelaku persetubuhan
  3. Pelaksanaan kebiri kimia dilakukan setelah terpidana selesai menjalani pidana polol
  4. Pelaksanaan kebiri kimia dapat dilakukan di rumah sakit milik pemerintah ataupun rumah sakit daerah yang ditunjuk
  5. Pelaksanaan tindakan kebiri kimia dihadiri oleh jaksa, perwakilan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial, serta kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan
  6. Pelaksanaan tindakan kebiri kimia dicatat dalam berita acara
  7. Jaksa memberitahukan pada korban atau keluarga korban bahwa telah dilakukan pelaksanaan tindakan kebiri kimia

Posting Komentar

0 Komentar