Banyak Dampak Buruk Perkawinan Anak, Kemen PPPA: Kunci Penanganan Harus Bersinergi


KomnasAnak.com, NASIONAL
- Deputi Pemenuhan Hak Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Lenny N Rosalin, mengajak semua pihak untuk bersinergi mencegah perkawinan anak. Lantaran banyak dampak buruk yang akan terjadi akibat perkawinan anak, termasuk pendidikan.

 

Lenny menjelaskan, pendidikan anak yang menikah dini pasti akan terpengaruh. Bahkan banyak anak yang akhirnya harus keluar sekolah dan menjalani kehidupan rumah tangga.

 

“Tetapi di pendidikan juga drop out putus sekolah, wajib belajar tidak bisa dicapai padahal itu semua juga prioritas negara kita,” jelas Lenny dalam Webinar Pencegahan Perkawinan Anak dalam PHA atas Kesehatan dan Kesejahteraan, Jumat (19/2).

 

Kesehatan anak juga akan terganggu. Kapasitas fisik yang belum mumpuni saat hamil dan melahirkan akan berpotensi menyebabkan kematian ibu.

 

Seorang anak yang telah menjadi ibu pun rentan terserang kanker serviks dan preeklamsia atau peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urin.

 

Dampak buruk juga berpotensi timbul pada bayi yang lahir dari ibu yang masih anak-anak. Bayi akan lebih rentan risiko kematian, stunting, dan berat badan lahir rendah (BBLR).

 

Di samping kesehatan, perkawinan anak juga mendorong munculnya pekerja di bawah umur sebagai akibat tuntutan ekonomi keluarga. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan tak jarang bergaji kecil.

 

“karena harus menghidupi keluarganya pasti upahnya rendah dan pasti memunculkan kemiskinan,” kata dia.

 

Lenny juga mengungkapkan bahwa anak-anak telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dalam perkawinan anak. Tentu saja hal ini akan berpengaruh pada kesehatan mental anak.

 

“Jadi runyem, complicated sekali ya sebetulnya ujungnya itu perkawinan anak ini yang bisa kita cegah sama-sama,” ungkapnya.

 

Semua dampak tersebut dikatakan Lenny akan berpengaruh terhadao Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Sustainable Development Goals (SDGs). Target pemerintah dalam pemenuhan IPM dan SDGs tersebut akhurnya harus tertunda karena dampak perkawinan anak.

 

“Inilah kenapa kami selalu menyampaikan di berbagai forum memang kunci penanganan ini adalah satu-satunya adalah kita harus bersinergi,” tutur Lenny.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar