Dosen Unpad Ungkap Banyaknya Dampak Negatif bagi Anak akibat Pandemi


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Hampir setahun pandemi COVID-19 berlangsung. Banyak sektor yang akhirnya terkena dampak, anak-anak menjadi salah satu golongan yang paling terdampak.

 

Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (unpad) Prof. Dr. Meita Dhamayanti, pandemic COVID-19 berpotensi mengakibatkan berbagai dampak negatif terhadap anak. Baik jangka pendek, menengah, maupun jangka Panjang.

 

“Anak merupakan korban yang tersembunyi, children: a hidden victim of Covid-19 pandemic,” ujar Prof Meita, ditulis pada Rabu (24/2).

 

Meita mengungkapkan, imunisasi menjadi salah satu yang terdampak. Dengan kebijakan PSBB, pelaksanaan imunisasi yang biasanya dilakukan di Posyandu menjadi terganggu.

 

“Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi apabila anak-anak ini tidak mempunyai kekebalan terhadap PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi). Maka wabah lain selain COVID-19. Jika tidak, maka anak-anak bisa menjadi crisis behind this pandemic,” paparnya.

 

Selain itu, pandemi juga memicu penurunan pemberian ASI eksklusif, meningkatnya angka malnutrisi, dan stunting.

 

“Stunting masih merupakan masalah, sekalipun tanpa adanya pandemi COVID-19,” tandasnya.

 

Berdasarkan hasil penelitiannya di Bangka Belitung, pandemi meningkatkan prevalensi anak berisiko stunting sebesar 4,3 persen.

 

Perubahan kondisi perekonomian juga turut mempengaruhi anak-anak meskipun tidak secara langsung. Meita mengatakan, anak menjadi rentan terhadap kekerasan dalam keluarga.

 

“Hal ini mengganggu stabilitas lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang serta memberikan banyak tekanan pada anak-anak dan remaja. Keluarga mereka yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan, mental, dan perilaku, perkembangan dan mungkin saja kekerasan terhadap anak,” terang Meita.

 

Tak hanya fisik anak, pandemi juga memberikan dampak pada masalah mental emosional anak khususnya remaja.

 

Sebelum pandemic, berdasarkan survey di sejumlah SMP dan SMA dengan menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), diperolah data conduct problems 38,9 persen, hyperactivity 15,6 persen, emotional symptoms 30 persen, peer problems 29,3 persen dan masalah keseluruhan 31,6 persen.

 

“Akibat pandemi masalah mental emosi menunjukkan peningkatan, tampaknya masalah emosi paling menonjol, sedangkan sebelum pandemic masalah conduct lebih menonjol,” jelas Meita.

 (Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar