Jawa Barat Masuk Zona Merah Kejahatan Seksual terhadap Anak




KomnasAnak.com, NASIONAL -
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait menyebut Jawa Barat sebagai daerah yang masuk dalam zona merah kejahatan seksual terhadap anak. Dari keseluruhan kekerasan anak di Jawa Barat, sebanyak 62 persennya adalah kejahatan kekerasan seksual.

 

“Perilaku kejahatan terhadap anak sudah dalam tahap abnormal, bukan darurat saja. Urutan pertama zona merah kekerasan anak adalah DKI Jakarta, kedua di Jawa Timur, ketiga di Jawa Barat, dan keempat di Sumatera Utara,” ujar Arist di Rusun milik Pemprov Jabar, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Senin (1/2/2021).

 

Menurut Arist, meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Barat dipicu oleh letak geografis dan jumlah penduduk yang sangat banyak.

 

Selain itu, lanjut Arist, di Provinsi Jawa Barat pun perilaku melecehkan perempuan dan laki-laki sangat tinggi.

 

“Saya tidak menggunakan kata budaya ya, tetapi perilakunya tinggi,” kata dia.

 

Arist mengatakan bahwa situasi tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab masa depan anak-anak akan terancam dan harus menjadi perhatian.

 

Pemerintah daerah, lanjut Arist, harus menggerakkan partisipasi masyarakat.

 

Menurutnya, ada beberapa wilayah di Jawa Barat yang kasus kekerasan terhadap anaknya tercatat sangat tinggi. Seperti Kota Bandung, Garut, Sukabumi, Bandung Selatan, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran.

 

“Di wilayah tersebut didominasi kejahatan seksual, karena pemahaman seks itu dianggap hal biasa, bahkan di Bandung 62 persen kejahatan seksualnya,” tutur Arist.

 

Dia menyebut, partisipasi masyarakat di Jawa Barat dalam memutus mata rantai kekerasan seksual terhadap anak masih sangat lemah.

 

“Partisipasi masyarakat sangat lemah, karena seks sudah dianggap biasa, saya tidak menggunakan budaya ya. Tidak boleh. Tapi perilaku,” kata Arist.

 

Arist menambahkan, perilaku kejahatan seksual terhadap anak itu tentu ada yang mempengaruhinya. Bisa factor pemahaman tentang anak itu siapa.

 

Baahkan, kata Arist, di beberapa tempat anak masih dianggap sebagai property, bukan dianggap sebagai titipan Tuhan.

 

“Ketika anak dianggap sebagai property, apapun bisa terjadi. Maka jangan heran, kalau kasus sodomi, dan kasus incest (persetubuhan sedarah) di Jawa barat juga tinggi,” ujarnya.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar