Ketahui Penyebab Banyaknya Perkawinan Anak di Dunia


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Angka perkawinan anak di dunia masih tinggi dan menunjukkan kecenderungan meningkat seiring pandemic. Pada pertengahan tahun 2020 kemarin, Indonesia menempati posisi ke delapan dengan angka perkawinan anak terbanyak di dunia.

 

Perkawinan anak dapat menyebabkan masalah mengkhawatirkan jika tidak ada langkah penghentian secara konkrit. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ada hubungan antara perkawinan anak dan tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Anak yang menikah akan lebih mungkin mengalami kekerasan dan eksploitasi.

 

Penyebab perkawinan anak beragam. Tapi secara luas dapat dijabarkan dalam 5 faktor.

 

1. Kemiskinan

Kemiskinan memang digadang-gadang menjadi factor penyebab utama perkawinan anak, khususnya bagi anak perempuan. Pernikahan dianggap jalan terbaik bagi orang tua untuk mengurangi beban ekonomi keluarga. Lantaran anak perempuannya akan dinafkahi suaminya. Selain itu, mahar pernikahan juga menjadi pemulus bagi keluarga. Sehingga mereka akhirnya memperbolehkan anak perempuannya menikah.

 

Setelah menikah, keluarga tidak akan lagi menanggung beban pendidikan. Anaknya juga dapat bekerja dan menghasilkan uang bagi keluarganya sendiri.

 

2. Konflik domestic

Konflik domestik telah menyebabkan banyak perkawinan anak di Timur Tengah dan sebagian Afrika. Beberapa kelompok teroris di negara disana menjual anak-anak perempuan yang ditawan untuk menikah dengan orang lain.

 

Anak-anak perempuan tersebut didapat mereka saat operasi perebutan sebuah kota atau wilayah. Ada juga anak perempuan yang diculik dan dipaksa masuk dalam dunia prostitusi.

 

3. Perdagangan manusia

Pernikahan secara paksa dapat juga dikategorikan sebagai perdagangan manusia, termasuk pada anak-anak. Laporan dari PBB juga menunjukkan adanya keterkaitan antara perdagangan manusia dengan pernikahan paksa.

 

Beberapa kasus menunjukkan bahwa anak perempuan dipaksa untuk menikah karena factor ekonomi keluarga. Ada juga yang dijadikan pekerja prostitusi ketika ditawari pekerjaan di luar kota atau negeri tanpa sepengetahuan pihak yang bersangkutan.

 

4. Kepastian hukum suatu negara

Tidak semua negara melarang perkawinan anak. Dilansir World Economic Forum, anak perempuan di Sudan yang berumur 10 tahun dapat menikah. Sedangkan bagi laki-laki dapat menikah bila sudah berumur 15 tahun.

 

Di Tanzania, pemerintah setempat memperbolehkan anak perempuan agama tertentu di usia 12 tahun untuk menikah. Ada juga beberapa negara yang mempunyai hukum melarang perkawinan anak namun belum menjalankannya dengan baik.

 

5. Tradisi

Di beberapa negara, perkawinan anak sudah menjadi hal lumrah, salah satunya India. Dilansir UNICEF, terdapat beberapa wilayah di India yang mempunyai kasus perkawinan anak yang tinggi. Seperti Bengal Barat, Andhra Pradesh, dan Maharashtra. Tradisi menikah sendiri kerap dikaitkan dengan tanda menuju dewasa, yaitu menstruasi.

Posting Komentar

0 Komentar