Komnas Perempuan Sebut Konstruksi Gender sebagai Akar Perkawinan Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL -
 Pencegahan perkawinan anak terus menjadi isu prioritas bagi pemerintah Indonesia. Namun penurunan angka perkawinan anak sukar terwujud.


Ketua Komnas Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Andy Yentriyani mengatakan akar masalah perkawinan anak, khususnya anak perempuan, adalag konstruksi gender yang menempatkan perempuan sebagai subordinat dibandingkan laki-laki.

"Perempuan dianggap sebagai empunya domestik, sehingga dihalang-halangi untuk mashk ke sektor publik. Ketika bisa masuk ke sektor publik pun, slalu diingatkan tugasnya di rumah," ujar Andy, Jumat (26/2).

Konstruksi gender yang demikian memunculkan anggapan sebagian orang tua bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi dan lebih baik dikawinkan.

Andy melihat adanya ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam mendapat akses pendidikan.

Menyoroti iklan perkawinan anak beberapa waktu lalu, Andy menilai salah satu daerah yang disasar adalah Lombok.

Lantaran tingkat pendidikan di Lombok masih rendah. Hanya 5,5 tahun bagi anak perempuan dan tujuh tahun bagi laki-laki.

"Daerah yang menjadi sasaran Aisha Wedding, yaitu Lombok, rata-rata pendidikannya hanya 5,5 tahun untuk perempuan dan tujuh tahun untuk laki-laki," kata dia.

Kemiskinan yang menyebabkan pendidikan rendah menjadi salah satu faktor penyebab perkawinan anak. Meskipun ada sejumlah pihak yang menggunakan dalil agama dan tradisi.

Pandemi pun turut mempengaruhi kondisi perkawinan anak. Selain berdampak pada ekonomi masyarakat, pandemi juga berdampak bagi pendidikan anak.

"Banyak murid merasa terbebani dengan pendidikan daring, selain permasalahan infrastruktur teknologi dan kapasitas guru yang berbeda. Pada saat bersamaan, terjadi kepanikan moral ketika orang tua melihat anaknya di rumah saja," kata dia.

Karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengimbau semua pihak untuk turut mencegah perkawinan anak. Termasuk intervensi melalui pendekatan agama dan budaya sesuai kondisi dan karakter masing-masing daerah.
(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar