Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Prostitusi Online dan Eksploitasi Seksual Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Kasus ekploitasi anak secara massif berhasil dibongkar Polda Metro Jaya dalam kurun waktu Januari-Februari 2021. Dari 286 korban yang diamankan, total 91 korban adalah anak di bawah umur.

 

Korban dieksploitasi secara seksual dengan dijual kepada pria hidung belang melalui aplikasi MiChat.

 

Total ada 15 pelaku yang diamankan pihak kepolisian. Kesemuanya adalah germo atau joki yang menjadi perantara korban dengan pria hidung belang.

 

Polisi menyebut 15 pelaku merupakan satu sindikat yang sama. Hingga saat ini Polda Metro Jaya telah menerima 10 Laporan Polisi (LP).

 

“Selama tahun 2021 ada 10 LP dengan tersangka 15 orang berperan sebagai germo. Korbannya anak-anak di  bawah umur, dari 10 LP ada 286 korban yang diamankan. 91 diantaranya anak di bawah umur dan 195 sisanya orang dewasa,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (25/2).

 

Polisi mengungkapkan 91 korban anak di bawah umur awalnya berkenalan dengan pelaku melalui media sosial. Para pelaku diketahui kerap mengintai calon korbannya tersebut dengan berselancar di dunia maya.

 

Setelah menemukan anak yang dinilai bisa dijadikan korban, pelaku menggunakan segala cara untuk memperdaya korban. Mayoritas korban diiming-imingi uang hingga dijadikan pacar.

 

Korban yang terpedaya kemudian diajak pelaku menginap di hotel. Saat itulah korban dijual kepada pelanggan layanan prostitusi online tersebut.

 

Kombes Yusri memastikan penyelidikan untuk mengungkap korban lainnya tidak akan berhenti di angka 286. Kini pihak kepolisian mendalami indikasi masih adanya anak lain yang menjadi korban protitusi dari sindikat tersebut.

 

“Kami akan mendalami terus apakah ada LP dari tahun sebelumnya terkait eksploitas anak apakah ada kemungkinan korban lain. Karena ini baru di Januari sampai Februari 2021 ada 286 korban,” ungkap Kombes Yusri.

 

Polisi mengatakan korban dikenakan harga mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu bagi pelanggan yang ingin menggunakan jasa prostitusi. Tiap harinya korban bisa melayani dua hingga tiga orang tamu.

 

“Para korban ini ditarif mulai dari Rp 300 ribu hingga 500 ribu lewat aplikasi MiChat,” kata dia.

 

Sedangkan tersangka sebagai germo mendapat imbalan setidaknya Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu dari setiap transaksi yang dilakukan korban.

 

Terkait perlindungan kepada 91 anak, Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) DKI Jakarta Wiwik Andayani mengatakan pihaknya akan memberikan pendampingan kepada korban. Bimbingan konseling hingga rumah aman akan diberikan kepada para korban. Bimbingan konseling hingga rumah aman akan diberikan kepada korban selama proses penyelidikan berlangsung.

 

“Upaya yang dilakukan konseling, menemani ke polisi untuk penyidikan, tes psikologis, rujukan rumah aman yang di bawah kewenangan Dinsos,” kata wiwik.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar