Polisi Minta Orang Tua Waspada Predator Anak Bermodus Pendidikan


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Terungkapnya kasus pencabulan yang dilakukan guru privat terhadap empat anak laki-laki di Cilincing, Jakarta Utara membuka mata kita bahwa pendidikan bisa jadi tempat kekerasan seksual terhadap anak. Menyusul kasus tersebut, Wakapolres Metro Jakarta Utara AKBP Nasriadi mengimbau masyarakat agar berhati-hati pada predator anak bermodus pendidikan.

 

“Kami harap kepada masyarakat hati-hati apabila ada kedok-kedok seperti ini, contoh seperti (kasus pencabulan di) perpustakaan,” kata Nasriandi di Mapolres Jakarta Utara, Senin (22/2).

 

“Kemusian, tempat-tempat yang banyak wi-finya, atau pelajaran-pelajaran yang sifatnya itu adalah privat, harus diantisipasi, jangan mereka belajar sendiri, harus bersama teman-temannya,” sambungnya.

 

Adapun pelaku MTP (41) telah diringkus oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Metro Jakarta Utara.

 

MTP diketahui memiliki sebuah perpustakaan di Kampung Sepatan, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Menurut keteranfan Nasriadi, MTP mencabuli anak-anak yang belajar di perpustakaan itu.

 

“Jadi modusnya MTP ini adalah membuka perpustakaan umum dan perpustakaan itu dia undang anak-anak untuk bisa ke perpustakaan itu, yang menariknya adalah dia juga memasang wi-fi disitu, sehingga anak-anak tertarik disitu, baik untuk belajar maupun untuk main game,” tutur Nasriadi.

 

MTP memanggil korban untuk datang seorang diri ke perpustakaan, lalu melakukan pencabulan.

 

“Tetapi dia melakukan pelecehan terhadap anak laki-laki itu ketika korbannya itu sendiri, dipanggil sendiri, kemudian masuk ke ruangan itu dikunci dari dalam, kemudian dilakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak,” tuturnya.

 

Nasriadi mengatakan, MTP sudah melakukan aksinya lebih dari satu tahun. Bahkan ada salah satu korban yang menggaku sudah beberapa kali mengalami pencabulan.

 

Saat beraksi, MTP mengiming-imingi korban dengan uang Rp 50.000.

 

Polisi telah mengamankan barang bukti berupa pakaian korban dan selembar uang pecahan Rp 50.000.

 

Atas perbuatannya, tersangka dijerat pasal 82 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan diancam hukuman 15 tahun penjara.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar