Trauma pada Anak-Anak bisa jadi Faktor Risiko Social Anxiety Disorder


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Perasaan jantung berdebar seperti saat berbicara di depan umum dan dengan orang baru adalah reaksi yang wajar. Psikolog Martaria Rizky R. mengatakan kondisi tersebut merupakan sensasi spontan sistem syaraf.

 

“Sensasi yang dirasakan tubuh saat tegang atau cemas adalah manifestasi primer. Artinya, tidak dipicu gangguan kesehatan lain atau penggunaan obat jenis tertentu,” ungkap psikolog yang akrab disapa Kiky.

 

Namun, kecemasan tersebut patut diwaspadai jika sampai mengganggu aktivitas. Kiky menjelaskan, kecemasan tak wajar serta menetap bisa mengarah ke social anxiety disorder (SAD) atau juga popular dengan istilah fobia sosial. Tandanya adalah kecemasan pada situasi sosial di luar rumah, bahkan untuk mengobrol dengan tetangga.

 

“Karena cemas, akhirnya muncul ppenghindaran. Misalnya, saat lewat rumah tetangga jalan cepat agar tidak disapa,” tutur Kiky.

 

Kiky menjelaskan, trauma maupun tindakan abusive yang diterima di usia anak menjadi factor risiko SAD.

 

“Onset atau serangan kecemasan sekitar 75 persen muncul di usia 8-15 tahun,” lanjut Kiky.

 

Meskipun begitu, trauma masa lalu tidak selalu menjadi pencetus fobis sosial.

 

“Korban bullying tak selalu inder. Ada yang berhasil bangkit dan malah menjadi lebih baik,” kata Kiky. Ia menilai penanganan fobia sosial sama seperti penyakit fisik. Dibutuhkan diagnosis dan perawatan dari psikolog maupun psikiater yang kompeten.

 

Ia menegaskan, status fobia sosial tidak bisa diterka saja. Sebab, gangguan psikologi memiliki gejala yang nyaris sama dan membutuhkan observasi cukup Panjang.

 

Kiky menjelaskan, fobia sosial dapat dikontrol dan membaik dengan terapi. Psikoterapi seperti guided imaginary dan terapi kognitif behavioral banyak membantu.

 

“Dalam beberapa kasus, dikombinasikan juga dengan terapi obat dengan dosis yang terus dipantau,” lanjutnya. Selain itu, orang dengan fobis sosial dibekali dengan pelatihan keterampilan komunikasi.

 

Gangguan psikologi yang banyak dialami anak korban kekerasan ini memiliki beberapa ciri. Misalnya:

1. Menghindari situasi sosial (menghindar atau canggung berhadapan dengan teman sekelas atau guru),

2. Takut untuk menyampaikan atau menampilkan suatu hal (takut berbicara hingga akhirnya memilih diam, meskipun itu dengan temannya sendiri),

3. Ketakutan berlebihan pada sesuatu yang tidak terjadi (takut lewat di depan kelas karena merasa digunjingkan orang disana, padahal aslinya tidak),

4. Terjadi secara kontinu dengan durasi minimal enam bulan

5. Gangguan yang dirasakan cukup signifikan

 

Yang bisa dilakukan oleh orang terdekat:

1. Mendengarkan curhatannya dengan seksama

2. Jangan memberi tanggapan yang terkesan menyepelekan kondisinya

3. Beri apresiasi setiap mereka mampu menghadapi situasi sosial

4. Dorong mereka untuk ke psikolog dan menjalani terapi

 

Cara menenangkan diri untuk meringankan cemas

1. Belajar Teknik pernapasan perlahan agar bisa segera menenangkan diri saat cemas menyerang

2. lakukan persiapan sebelum menghadapi situasi yang membuat cemas. Misalnya berlatih di depan cermin.

3. Biasalan diri dari langkah kecil, misalnya pergi ke luar ditemani orang terdekat atau menyapa orang lain

4. Tantang balik pikiran negative dalam diri. Ketika tidak berani presentasi, ingat kembali saat berhasil memecahkan soal.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar