Artis Cynthiara Alona Jajakan Anak dalam Prositusi di Hotelnya


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Pihak kepolisian menemukan 30 kamar berisi perempuan dewasa dan anak, serta pria hidung belang ketika menggeledah Hotal Alona milik artis Cynthiara Alona. Dari 30 kamar tersebut, total 15 anak di bawah umur diamankan.

 

“30 kamar penuh dengan anak-anak dan dewasa. Bahkan dia (Alona) mengharapkan pelaku dan korban tak usah cepat-cepat meninggalkan hotal. Jumlah tamunya mereka pertahankan,” tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jumat (19/3).

 

Demi mempertahankan jumlah tamu hotel, kata Yusri, Alona memang tidak meminta tamunya untuk menyerahkan kartu identitas berupa KTP. Padahal pada umumnya, setiap tamu harus menunjukkan KTP saat proses check in.

 

Berdasarkan pengakuan Alona, lokasi itu dulunya adalah kos-kosan sebelum menjadi hotel.

 

“Hotel bintang 2, dulunya pengakuan tersangka tempat kos-kosan diubah jadi hotel,” ucap Yusri.

 

Hingga saat ini, penyidik belum menemukan indikasi jaringan prostitusi artis di kasus alona. Dugaan prostitusi online Alona, menurut Yusri murni untuk menutup biaya operasional hotel.

 

“Sampai saat ini tidak ada hubungannya, pure dia berbisnis harapannya hunian hotelnya penuh terus, motifnya ekonomi. Sehingga bagaimana bisa roda ekonomi tetap berjalan, jadi enggak ada kaitannya dengan dunia keartisan,” tutur Yusri.

 

Yusri mengatakan, Alona dan mucikari mengiming-imingi anak untuk dijadikan pacar, bahkan ditawari pekerjaan.

 

“Bagaimana cara merekrut (korban)? Ada yang dipacari, ada yang ditawari ‘kerjaan’ sehingga korban di bawah umur ini mau melakukan”

 

Saat melakukan penggerebekan di lokasi hotel pada Selasa (16/3) malam, polisi mengamankan 15 anak di bawah umur.

 

“Korban ada 15 orang adalah semua anak di bawah umur yang rata-rata 14, 15, 16 tahun,” ungkap Yusri.

 

Joki dan mucikari diketahui menawarkan korban melalui aplikasi Michat. Yusri mengatakan korban ditawarkan dengan harga di kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 1 juta.

 

Terkait penetapan Cynthiarra Alona sebagai tersangka, polisi mengatakan setidaknya ada dua alat bukti yang ditemukan penyidik. Dari dua alat bukti tersebut, disimpulkan bahwa Alona mengetahui bahkan menyediakan hotelnya sebagai tempat prostitusi.

 

Kepada polisi, Cynthiara Alona mengaku hal tersebut didorong untuk pemenuhan kebutuhan operasional hotel.

 

“Motifnya karena di COVID-19 penghuni cukup sepi sehingga ada peluang agar operasional berjalan ini yang terjadi (praktik prostitusi),” tutur Yusri.

 

Dalam kasus prostitusi online ini, polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Dua tersangka lainnya yakni DA selaku mucikari dan AA selaku pengelola hotel.

 

Ketiganya dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 296 KUHP dan atau Pasal 506 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 10 tahun penjara.

 

Apapun alasannya, menggunakan anak untuk eksploitasi seksual tidak dibenarkan. Sekalipun itu untuk menutup biaya operasional hotel.

 (Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar