Kemen PPPA: Gangguan Psikososial pada Anak dan Remaja Jangan Dianggap Enteng


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mendorong satuan pendidikan agar semakin ramah anak dan remaja. Hal tersebut untuk menekan risiko gangguan psikososial atau depresi yang marak terjadi pada remaja.

 

Tidak sedikit anak dengan gangguan psikososial akhirnya memilih bunuh diri untuk mengakhiri rasa depresinya.

 

Deputi bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Nahar mengatakan gangguan psikososial pada anak dan remaja tidak boleh dibiarkan. Sebab akan membahayakan anak itu sendiri dan lingkungannya.

 

“Gangguan psikososial pada anak dan remaja tidak bisa dianggap enteng, harus segera ditangani. Jika dibiarkan dapat menyebabkan efek bola salju dan berbahaya bagi anak itu sendiri, lingkaran pertemanan, dan lingkungan sosialnya,” ujar Nahar dalam siaran persnya, Jumat (9/4).

 

Nahar mengungkapkan, gangguan psikososial pada anak dan remaja sering tidak tampak. Meski demikian, tanda-tandanya dapat terdeteksi.

 

“Oleh karenannya, perlu pengamatan khusus dari orang-orang disekitarnya, salah satunya guru. Guru merupakan pihak yang objektif dalam mengamati apakah seorang anak mengalami gangguan psikososial atau tidak,” kata dia.

 

Berdasarkan hasil kajian Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2020, tercatat sebanyak 4,3 persen laki-laki dan 5,9 persen perempuan di tingkat SMP dan SMA memiliki keinginan bunuh diri.

 

Namun, menurut Nahar, kondisi gangguan psikososial yang dialami anak dan remaja tidak banyak disadari dan diketahui oleh berbagai pihak, termasuk tenaga pendidik di satuan pendidikan. Akibatnya, pihak sekolah maupun guru kurang tepat memberikan penanganan.

 

“Jadi kalau ada peserta didik menampakkan perilaku yang tidak biasa dari sebelumnya, maka sekolah harus mulai menggali apa persoalan anak tersebut sehingga kita dapat melakukan deteksi dini,” ucap dia.

(Editor: MD)

Posting Komentar

0 Komentar