Data UNICEF: Angka Malnutrisi Anak Indonesia Tinggi


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Dana Anak PBB, UNICEF telah merilis laporan level malnutrisi anak edisi 2021. Laporan mengungkap kondisi anak kegemukan, kurang gizi, hingga stunting di Dunia.


Data tersebut merupakan hasil estimasi data yang diambil sebelum 2020. Lantaran pandemi menghalangi pengumpulan data. UNICEF khawatir data sebenarnya lebih buruk akibat dampak pandemi.

UNICEF berkata anak stunting tidak hanya menghadapi masalah tinggi badan dan perkembangan otak, tetapi berpengaruh ke ekonomi mereka saat dewasa.

"Mereka menghadapi kesulitan belajar di sekolah, berpenghasilan lebih kecil sebagai orang dewasa, dan menghadapi halangan untuk berpartisipasi dalam masyarakat mereka," tulis UNICEF dikutip Rabu (5/5).

Data di Indonesia menunjukkan jumlah stunting yang mengkhawatirkan. Meskipun tinggi, jumlah stunting turun dibandingkan tahun 2012.

Berdasarkan estimasi UNICEF, ada 31,8 persen anak stunting di Indonesia. Akibatnya Indonesia meraih predikat very high (sangat tinggi).

Angka di Indonesia lebih tinggi dibanding negara tetangga, Malaysia (20,9 persen), Thailand (12,3 persen), dan Filipina (28,7 persen).

Meski begitu, presentase stunting di Indonesia lebih rendah dari Kongo (40,8 persen), Ethiopia (35,3 persen), dan Rwanda (32,6 persen).

"Usaha-usaha yang lebih intensif akan dibutuhkan jika dunia ingin meraih target global mengurangk anak-anak stunting menjadi 104 juta pada 2025, dan menjadi 87 juta pada 2030," tulis UNICEF.

Angka kegemukan di Indonesia juga meningkat dari 8,2 persen di tahun 2012 menjadi 11,1 persen pada 2020. Indonesia mendapat predikat keunguan dalam kategori ini. Artinya, progresnya makin buruk.

Terkait kekurangan gizi (wasting), data UNICEF pada 2018 menunjukkan bahwa 10,2 persen anak Indonesia mengalami wasting. Indonesia masuk dalam kategori high(tinggi).

Dalam penanggulangan wasting, Indonesia mendapat predikat kuning. Artinya, meski programnya off-track, tapi masih ada progres.

Laporan UNICEF ini dibuat dengan kolaborasi bersama WHO dan World Bank Group.
(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar