Kata Psikolog Soal Anak Beli Voucher Gim Pakai Uang THR


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Saat lebaran, banyak anak akan mendapat uang THR atau ‘angpao’ dari kerabatnya. Sayangnya, anak yang belum bisa mengatur keuangan sering menggunakan uang tersebut untuk membeli voucher gim.

 

Orang tua diingatkan kembali tentang pengawasan terhadap anak dengan adanya video orang tua memarahi kasir minimasir. Lantaran anaknya menghabiskan Rp 800 ribu untuk voucher gim.

 

Menurut psikolog anak Ratih Zulhaqqi, fenomena anak menghabiskan uang untuk membeli voucher gim bukan hal baru. Bahkan sudah ada sejak sebelum pandemi.

 

“Anak-anak menghabiskan uang buat beli voucher gim itu bukan fenomena baru, bahkan sebelum pandemi sudah banyak yang menghabiskan uangnya untuk beli voucher gim,” kata Ratih, dilansir CNNIndonesia.com, Senin (17/5).

 

Meskipun demikian, Ratih mengatakan bahwa tidak semua anak membelanjakan uang THRnya untuk voucher gim. Beberapa mungkin menggunakannya untuk membeli makanan, mainan, atau bahkan produk kecantikan untuk anak remaja.

 

Bagi anak yang membeli voucher gim, Ratih menyebut anak tersebut sudah ketagihan. Walaupun tahu uang tersebut bisa untuk membeli makanan atau mainan, anak tetap memilih voucher gim. Sebab ingin ‘memperpanjang nyawa’ karakter gimnya. Padahal biasanya, nyawa karakter gim akan terisi bila menunggu waktu pemulihan.

 

“Kalau mau digeneralisasi, kayaknya semua anak yang sudah masuk fase kecanduan, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan ‘nyawa’ karakternya. Voucher gim itu, kan, nyawa untuk tetap bisa melanjutkan permainan. Jadi kalau nyawa enggak dibeli, permainan akan usai dan dia enggak bisa bermain gim lagi,” jelas Ratih.

 

Selain memperpanjang nyawa, voucher gim juga biasa dibeli untuk meningkatkan kemampuan karakternya. Sementara, biasanya setiap karakter pada gim memiliki tak hanya satu kemampuan sehingga dibutuhkan banyak voucher agar kemampuannya maksimal.

 

Namun bila dibiarkan, anak akan semakin boros membelanjakan uang untuk gim daring.

 

Secara psikologis, anak memang belum mengerti cara tepat membelanjakan uangnya. Akibatnya, anak akan membeli apa yang dia inginkan tanpa berpikir panjang.

 

Ratih mengatakan, anak mungkin berpikir untuk membeli kebutuhan primer seperti baju dan makanan. Namun karena telah tercukupi di rumah, akhirnya mereka beralih ke kebutuhan tersier.

 

“Tapi kalau anak-anak yang enggak kecanduan gim, ya, enggak beli voucher juga, mereka mungkin menabung, beli makanan, atau remaja cewek mungkin beli skincare. Jadi lebih ke preferensi masing-masing,” ucapnya.

 

Idealnya, orang tua harus tetap mengawasi dan memberi pengetahuan kepada anak bagaimana caranya mengelola uang dengan bijak.

 

“Orangtua juga hrus mengawasi belanja anak, perhatikan jika anaknya mulai ketagihan beli voucher game online, maka circle main game online itu harus dipotong sesegera mungkin,” tutur Ratih.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar