Kata Psikolog Soal Orang Tua Bunuh Anak karena Nakal di Temanggung


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Masyarakat dihebohkan dengan pemberitaan tewasnya ALH, bocah Temanggung berusia 7 Tahun yang ditenggelamkan di bak mandi oleh orangtuanya sendiri. Tubuh korban ditemukan sudah dalam keadaan kering di kamarnya.

 

Orangtuanya mengaku anaknya telah meninggal dunia sekitar empat bulan lalu.

 

Tindakan orang tua dengan dibantu oleh tetangganya ini dikarenakan anaknya nakal dan berdasarkan penerawangan tetangga dianggap sebagai titisan Genderuwo. Untuk menghilangkannya, sang bocah harus dibenamkan di dalam air sampai tewas.

 

“Dari terawangan Pak H, anak saya ada turunan genderuwo, makanya nakal. Jadi untuk menghilangkan aura itu,” kata salah satu orang tua korban.

 

Psikolog klinis anak, Mira Amir menilai bahwa peristiwa ini salah satunya disebabkan karena lemahnya akses pengetahuan tentang pola pengasuhan anak.

 

“Soal pembunuhan pada anak ini jelas akibat dari lemahnya tingkat pendidikan orang tua dan lingkungan, sehingga lingkungan juga bukan mencerdaskan orang tua, malah semakin menjerumuskan,” papar Mira pada CNNIndonesia.com, Selasa (18/5).

 

ALH sebagai korban juga belum berarti nakal dalam artian sepenuhnya. Mira mengatakan, mungkin saja korban merupakan anak yang aktif atau bahkan anak berkebutuhan khusus (ABK).

 

“Salah satu kesulitannya karena mungkin di daerah pelosok, jadi sulit mengetahui bahwa anak ini mungkin sebenarnya berkebutuhan khusus. Apalagi jika ABK-nya sudah kasus yang sangat spesifik, lingkungan juga bisa enggak paham bahwa ini kondisi khusus,” kata Mira.

 

Menurutnya, persepsi tentang anak nakal tidak bisa lepas dari pandangan sejumlah orang. Terutama generasi tua yang memandang bahwa anak berkebutuhan khusus, anak hyperactive, atau bahkan anak dengan minat unik dan berbeda sebagai anak bandel.

 

Mira berharap, paling tidak ada tenaga kesehatan di setiap lingkungan yang mampu mengedukasi tentang kondisi-kondisi tertentu pada anak serta cara menghadapinya. Pasalnya, peran lingkungan merupakan aspek terpenting untuk keselamatan dan kesejahteraan anak.

 

“Jadi kalau sampai lingkungan membiarkan seperti kasus anak ini meninggal berbulan-bulan, didiamkan, itu bukan hanya orangtuanya yang sakit, tapi juga lingkungannya,” ujarnya.

 

Mira mengatakan, tak sedikit masyarakat yang memilih diam dan tak ikut campur ketika melihat kekerasan terhadap anak. Dia mencontohkan, misalnya ada orang tua yang membentak hingga memukul anaknya di tempat umum karena menangis. Padahal, lingkungan dapat mengambil tindakan dengan menghentikan hal tersebut.

 

“Kita sebagai lingkungan enggak bisa bersikap apatis, membiarkan untuk tidak ikut-ikutan hanya karena bukan masalah kita,” ujarnya.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar