Kemudahan Akses buat Perokok Anak Terus Meningkat


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Andi Nafsiah Walinono Mboi, mantan Menteri kesehatan Indonesia mengatakan, saat ini perokok anak jumlahnya mencapai 9,5 persen. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat jadi 15,95 persen pada 2030.

 

“Anak-anak kita itu nantinya akan jadi beban keluarga dan tentu menjadi beban negara yang harus mengeluarkan biaya kesehatan,” kata Nafsiah dalam acara daring peringatan hari tanpa tembakau sedunia, Senin (31/5/2021).

 

Program Manager Komnas Pengendalian Tembakau Nina Samidi menyesalkan mudahnya akses rokok untuk anak-anak. Kemudahan akses ini menjadi salah satu factor utama anak-anak merokok.

 

“Akses anak mulai mencoba rokok sangat mudah, yaitu harganya yang sangat mudah, bisa dibeli di mana saja, dan anak-anak bisa beli langsung sendiri,” kata Nina pada Anadolu Agency, Selasa (1/6/2021).

 

Selain itu, menurut dia, tekanan dari teman di lingkungan dan pergaulan juga jadi penyebabnya. Bahkan, kata dia, ada juga yang mencontoh dari seorang anggota keluarga.

 

Selain faktor internal, penyebab anak merokok dari faktor luar juga bermacam-macam. Seperti iklan, promosi, dan sponsor rokok yang tidak dilarang.

 

“Padahal semua itu menargetkan anak atau remaja,” lanjut Nina.

 

Dia menambahkan, informasi berupa iklan layanan masyarakat mengenai bahaya rokok juga masih kurang. Sehingga, anak-anak cenderung melihat rokok sebagai barang normal untuk konsumsi.

 

Survei Yayasan Lentera Anak, Komnas Pengendalian Tembakau, dan Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) pada April sampai Juni 2020 menduga penyebab meningkatnya jumlah perokok anak adalah banyaknya penjual rokok di sekitar sekolah.

 

Penelitian yang melibatkan 401 sekolah menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan. Terdapat 255 sekolah di Jakarta, 93 di Medan, 24 di Surakarta, dan 29 di Banggai. Sementara jumlah penjual rokok mencapai 805 toko, yaitu 449 di Jakarta, 159 di Medan, 48 di Surakarta, dan 149 di Banggai.

 

Sayangnya, revisi Peraturan Pemerintah nomor 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan mengandung zat adiktif berupa produk tembakau berjalan lamban.

 

Bahkan, sampai saat ini Indonesia juga belum meratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Padahal fungsi FCTC adalah membatasi dan mengontrol penyebaran produk tembakau seperti rokok.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar