Kenali Efek BPA, Zat Bahaya dalam Botol Plastik Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Belakangan ini, zat BPA jadi perbincangan publik. Banyak pihak yang mendorong agar alat berbahan BPA diberi logo khusus. Salah satunya adalah Komnas Perlindungan Anak (PA). Akan membahayakan bayi dan anak adalah alasan utamanya.

 

BPA adalah singkatan dari bisphenol A, yaitu bahan kimia yang umum digunakan di banyak produk rumah tangga, termasuk bahan lapisan susu formula dan kaleng makanan lainnya.

 

Selama bertahun-tahun, BPA digunakan sebagai bahan botol susu bayi dan cangkir minum. Sampai protes publik muncul karena BPA dari plastik luntur ke makanan. Akhirnya produsen botol dan cangkir beralih ke plastik bebas BPA.

 

Penelitian oleh American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan, bisphenol dalam wadah plastik dan lapisan kaleng aluminium telah dikaitkan dengan obesitas dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD/gangguan yang menyebabkan anak sulit fokus dan hiperaktif).

 

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa BPA yang mengganggu hormon dapat menimbulkan risiko kesehatan, seperti gangguan perilaku, masalah kesehatan reproduksi, dan diabetes.

 

Risiko ini lebih tinggi pada bayi dan anak-anak karena tubuh mereka yang lebih kecil dan tingkat penyerapan yang berpotensi lebih tinggi. Termasuk paparan saat masa kehamilan ibu mereka.

 

Penelitian yang dilakukan Dr. Deborah Kurrasch, PhD dari University of Calgary’s Hitchkiss Brain Institute (HBI) dan Alberta Children’s Research Institute turut mengungkapkan dampak buruk paparan BPA pada anak.

 

Seorang peneliti di labnya, Dr. Dinu Nesan, PhD, meneliti dampak rendahnya tingkat paparan BPA pada tikus hamil dan perkembangan otak keturunannya.

 

“Tujuan kami untuk memodelkan tingkat BPA setara dengan apa yang biasanya dialami oleh wanita hamil dan janin yang sedang berkembang. Kami sengaja tidak menggunakan dosis tinggi. Faktanya, dosis kami 11 kali dan hampir 25 kali rendah daripada yang dianggap aman oleh Health Canada dan FDA (Administrasi Makanan dan Obat AS). Bahkan pada tingkat rendah ini, kami melihat efek pada perkembangan otak prenatal pada tikus,” ungkap Dr Kurrasch.

 

Dengan model paparan BPA ini, Nesan menemukan perubahan mencolok pada wilayah otak yang bertanggungjawab menggerakkan ritme sirkadian, nucleus suprachiasmatic, yang terletak di hipotalamus.

 

Ketika sebelum lahir lahir terpapar BPA tingkat rendah, nucleus suprachiasmatic gagal berkembang dengan baik. Perubahan ini berimplikasi pada pola tidur, tingkat aktivitas, dan perilaku lainnya.

 

“Studi kami menunjukkan bahwa pada tikus hamil, paparan BPA pralahir memengaruhi waktu perkembangan neuron di otak janin, yang memiliki efek jangka panjang pada perilaku. Keturunan yang terpapar BPA selama kehamilan terjaga lebih lama dan menunjukkan hiperaktif. Paparan BPA prenatal tampaknya mengubah isyarat sirkadian otak, menyebabkan hewan memiliki tingkat energi yang tinggi dan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk istirahat,” kata Nesan.

 

Untuk melindungi anak dari paparan BPA ini, langkah paling efektif yang bisa dilakukan adalah dengan meninggalkan plastik. Atau paling tidak, gunakan plastik BPA free.

 

Jika masih terpaksa menggunakannya, jangan sekali-kali memanaskan wadahnya. Sebab plastik BPA akan larut ke bahan makanan jika terkena panas. Tentunya ini akan berbahaya jika larut dalam susu bayi.

 

Semua pihak harus melindungi anak dari ancaman kesehatan yang membahayakan hidupnya. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita menggunakan plastik aman untuk makan dan minum anak.

 (Penulis: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar