Komnas PA Dukung BPOM Labeli Galon Isi Ulang Bermuatan BPA

 


Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA), Arist Merdeka Sirait mendukung usaha BPOM melabeli galon isi ulang bermuatan BPA. Hal ini menyangkut bahaya zat Bisphenol A (BPA) bagi bayi, balita, dan janin pada ibu hamil.

 

“Sekali lagi kami menegaskan dan mendukung BPOM untuk segera melabeli galon isi ulang yang mengandung BPA. Jadi galon-galon plastik dan wadah makanan lain yang mengandung BPA harus segera diberi label tidak untuk dikonsumsi bayi, balita, dan ibu hamil,” ungkap Arist dalam siaran pers, Rabu (23/6/2021).

 

Arist merujuk pada hasil penelitian Universitas Harvard, Chicago’s School of Public Health, dan lembaga ilmu kedokteran lain yang menemukan bahwa BPA dapat bertindak sebagai racun dalam tubuh, seperti kanker payudara dan kanker hati.

 

“Jadi penelitian terbaru dari Harvard dan lembaga ilmu kedokteran lainnya menyatakan temuan baru bahaya BPA, dapat menimbulkan kanker payudara dan kanker hati,” ungkapnya.

 

Salah satu penelitian dampak BPA dilakukan Dr Deborah Kurrasch pada tikus. Hasilnya, tikus yang terpapar BPA sebelum lahir (saat masih janin) mengalami gagal perkembangan pada nucleus suprachiasmatic yang bertanggungjawab menghasilkan ritme sirkadian tubuh untuk tidur dan suhu tubuh.

 

Karena itu, Arist mendukung BPOM segera melabeli galon isi ulang yang berkode daur ulang nomor 7.

 

“Kami tidak melarang peredaran galon guna ulang, kami hanya ingin adanya pelabelan untuk informasi kepada masyarakat bahwa galon guna ulang yang mengandung BPA agar tidak dikonsumsi oleh bayi, balita, dan ibu hamil demi kesehatan mereka,” kata Arist.

 

Dalam kesempatan berbeda, ketua Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) Roso Daras mengungkapkan dirinya telah menerima surat balasan dari BPOM.

 

“Kami mengucapkan terima kasih atas balasan surat dari BPOM. Artinya selama ini antara JPKL dan BPOM mempunyai komunikasi yang baik,” tutur Roro.

 

Hanya saja, dia kembali menegaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Hasil penelitian oleh BPOM terhadap galon guna ulang, dan dikatakan masih dalam ambang batas perlu ada penjelasan.

 

“Sample yang dianalisis itu diambil dari mana. Apa baru keluar dari pabrik atau yang di pasaran. Jumlah yang dianalisis berapa, sebab hasilnya sangat berbeda jauh, padahal laboratorium yang ditunjuk JPKL juga menggunakan standar SNI dalam melakukan analisisnya,” tandas Roro.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar