SPI Bantah Dugaan Pelecehan, Komnas PA Pastikan Punya Bukti Kuat dari Korban


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Pihak Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu membantah dugaan atas pelecehan seksual, eksploitasi ekonomi, dan kekerasan yang dilakukan oleh JE pemilik sekolah terhadap siswa dan alumninya.

 

Dugaan itu telah dilaporkan oleh Komnas Perlindungan Anak (PA) kepada Polda Jatim dan telah memiliki beberapa bukti.

 

Pengacara JE, Recky Bernadus Surupandy bersama kepala sekolah SMA SPI, Risna Amalia dan Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPI) Seto Mulyadi memberi keterangan persnya pada Kamis (10/5/2021) kemarin. Mereka sepakat membantah dugaan tersebut.

 

“Segala pernyataan yang telah tertulis di media terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual, tindak pidana kekerasan fisik dan tindak pidana eksploitasi ekonomi di sekolah Selamat Pagi Indonesia tidak benar. Apa yang diterangkan si A, harus didukung keterangan lainnya. Biarkan nanti yang memilah adalah polisi,” kata Recky.

 

Dia mengatakan, pihak sekolah tengah mengumpulkan bukti pembelaan kepada JE. Tapi dirinya tidak merinci barang bukti apa yang dimaksud.

 

Soal pengawasan dan pembelajaran, dia menegaskan semuanya dilakukan oleh orang-orang internal.

 

“Karena mekanisme pembelajaran di sekolah ini berjalan dan pengawasan tanpa campur tangan pihak manapun. Pernyataan apapun, akan menjadi bernilai ketika proses pemeriksaan berjalan, disertai bukti, baru kami sampaikan. Sementara itu tidak kami sampaikan dulu. Setelah pemeriksaan baru kami sampaikan, pasti itu,” papar Recky.

 

Sementara itu, ketua LPI Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto meminta semua pihak menghargai asas praduga tak bersalah dan menyerahkan kasus kepada polisi.

 

Sepanjang pengamatannya, SPI membantu mengentaskan kemiskinan dan membantu anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapat pendidikan layak.

 

“Marilah kita menghargai dulu praduga tidak bersalah dan percayakan masalah ini kepada kepolisian. Saya mendengar kasus ini sangat prihatin karena saya sebelumnya telah mengenal sekolah ini berprestasi nasional dan internasional. Jadi tidak perlu datang ke sekolah untuk memberikan tekanan karena hal itu tidak dibenarkan dan melanggar hak anak yang ingin belajar,” ujar Kak Seto.

 

Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait sendiri tidak masalah bila SPI membantahnya. Menurutnya, itu hak dari terduga pelaku untuk membantah tuduhan pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, dan ekploitasi ekonomi.

 

“Itu hak mereka mengatakan tidak terjadi apa-apa disana. Artinya saya kita tidak ada masalah dengan memberikan keterangan pers untuk meyakinkan bahwa tidak terjadi apa-apa di SPI. Tetapi, saksi korban tetap pada pendiriannya telah terjadi tiga hal, yakni pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, dan eksploitasi ekonomi,” kata Arist.

 

Dia mengungkapkan, korban yang melapor telah membawa bukti kuat yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan hukum. Untuk itu mereka mendampingi para korban melapor ke Polda Jatim.

 

“Mereka melaporkan itu bersama dengan bukti-bukti ke Polda Jatim. Jika ada yang mengatakan lain, silakan saja tetapi harus diingat jangan diabaikan derita yang dirasakan korban. Biarkan orang berkata apa. Bahkan ada banyak yang melapor lewat hotline,” tandas Arist.

Posting Komentar

0 Komentar