Jaga Daya Tahan Tubuh Anak sebab Vaksin untuk Anak Belum Tersedia


KomnasAnak.com, JEPARA -
Berdasarkan data dari Gugus Tugas Covid-19, jumlah anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 per 13 Juli 2021 mencapai 328 ribu anak berusia 0-18 tahun. Selain itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan bahwa 1 dari 8 kasus Covid-19 adalah anak-anak.

 

Orangtua berperan sentral dalam melindungi anak dari paparan virus corona. Untuk itu, ahli kesehatan dr. Muliaman Mansyur menyarankan agar setiap orang tua terus menjalankan protokol kesehatan dan langkah-langkahnya. Guna menghindarkan semua anggota keluarga dari Covid-19.

 

“Orang tua perlu membatasi aktivitas di luar rumah termasuk untuk anak-anak mereka,” ungkap Muliaman dalam acara bertajuk Optimalkan Daya Tahan Tubuh si Kecil di Tengah Pandemi.

 

Selain itu, orang tua harus lebih bijak dalam meningkatkan daya tahan tubuh anak dan memberikan stimulasi yang sesuai dengan usia anak sehingga tumbuh kembangnya terus berjalan optimal.

 

Muliaman mengatakan, nutrisi dengan gizi sehat dan seimbang berperan penting supaya sel dalam tubuh menjadi lebih baik. Dengan gizi seimbang, sel-sel rusak bisa cepat diperbaiki.

 

Nutrisi makro dan mikro pada anak pun harus diperhatikan melalui jadwal makan yang teratur, yaitu tiga kali makan besar dan jam snacking.

 

Orang tua dapat menambahkan nutrisi tambahan berupa probiotik dan prebiotic, serta vitamin C,D, dan E sebagai penunjang daya tahan tubuh anak.

 

“Semua nutrisi ini bisa mendukung daya tahan tubuh si kecil sehingga mampu menangkal virus,” ungkap dr Muliaman.

 

Menjaga anak dari virus corona melalui gizi seimbang dan peningkatan daya tahan tubuh menjadi sangat penting mengingat belum adanya vaksin untuk anak 0-11 tahun.

 

Penggunaan vaksin untuk anak-anak belum diizinkan karena berkaitan dengan kematangan sistem kekebalan tubuh. Hal ini disampaikan oleh Dr. William Schaffner, professor di Divisi Penyakit Menular di Universitas Vanderbit dan penasihat vaksin untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

 

Perkembangan pada anak-anak juga tidak bisa disamakan. Selain itu, usia anak-anak memiliki dosis vaksi yang lebih sedikit atau lebih kecil dari remaja.

 

“Apa yang mungkin dilihat pada bayi berusia enam bulan berbeda dengan anak berusia 3-8 tahun, atau remaja 13-14 tahun,” kata Dr. Chip Walter, seorang dokter anak di Duke University dan penyelidik untuk uji coba Pfizer.

 

Inilah alasan mengapa sampai sekarang peneliti masih melakukan uji klinis vaksin anak-anak.

 

Buddy Creech, seorang spesialis penyakit menular Vanderbilt University dan salah satu peneliti utama vaksin Covid-19 pediatrik Moderna mengatakan, menemukan dosis vaksin yang tepat untuk anak kecil membutuhkan waktu.

 

Pasalnya, peneliti harus memberi dosis yang cukup agar tubuh anak dapat menghasilkan cukup respons imun untuk virus corona. Peneliti juga harus memastikan efek samping yang akan terjadi pada tubuh anak.

 

“Jika orang dewasa divaksin dan mengalami efek samping, kita bisa bertahan dengan itu. Tapi jika anak berusia dua tahun disuntik di paha kemudian mereka merasakan sakit di kaki sehingga tidak bisa merangkak atau berjalan. Kita punya masalah yang berbeda dan itu memicu lebih banyak kecemasan,” kata Creech.

Posting Komentar

0 Komentar