Perkawinan Anak di Jateng Tinggi, Ini Faktor Pemicu dan Langkah Pencegahannya


KomnasAnak.com, JEPARA -
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jateng, Retno Sudewi tak menampik tingginya perkawinan anak di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Daerah tersebut antara lain adalah Cilacap, Brebes, Banyumas, Pemalang, dan Grobogan.

 

“Pencegahan perkawinan anak telah kami gaungkan. Dengan kampanye Jo Kawin Bocah. Angka masih tinggi sekitar 10,8 persen, tetapi angka itu masih di bawah prosentase nasional,” ujar Retno.

 

Retno berharap kampanye Jo Kawin Bocah bisa menekan atau mencegah perkawinan pada anak. Dia menuturkan, perkawinan anak adalah bagian dari pelanggaran hak anak.

 

“Gerakan Jo Kawin Bocah diharapkan mampu menyadarkan orang tua terkait pemenuhan hak anak,” kata dia, Jumat (23/7/2021).

 

Sementara itu, Bintang Al Huda selaku pemerhati Anak Yayasan Setara Kota Semarang menyebutkan tiga pekerjaan rumah pemerintah Jawa Tengah untuk mengatasi perkawinan anak.

 

Pertama, mengoptimalkan kampanye Jo Kawin Bocah untuk pencegahan dan penanggulangan perkawinan anak.

 

Kedua, mencari langkah alternatif sebagai pengganti pembelajaran jarak jauh. Lantaran metode belajar saat ini cenderung membuat anak jenuh dan berdampak pada psikologis anak.

 

Ketiga, menghidupkan forum suara anak karena anak juga memiliki hak bersuara. Anak juga harus diajak untuk berpendapat agar apa yang diputuskan oleh orang dewasa sesuai dengan harapan anak.

 

Tingginya perkawinan anak sendiri dapat didasari oleh beberapa faktor. Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB, Tin Herawati mengungkapkan enam faktor pemicu perkawinan anak.

 

1. Tekanan ekonomi

2. Lingkungan, seperti perkembangan teknologi informasi atau figure (yang dicontoh)

3. Rendahnya pendidikan

4. Perjodohan

5. Budaya

6. Salah pengasuhan

 

“Sejumlah faktor ini bisa menyebabkan anak terjerumus dalam pergaulan bebas,” tegas Tin seperti dikutip dari laman IPB, Senin (26/7/2021).

 

Dia menambahkan, dengan banyaknya faktor penyebab, maka upaya pencegahan juga harus melibatkan banyak pihak. Sama halnya dengan sasaran intervensi pencegahan perkawinan anak tidak terfokus pada anak saja, tapi juga pada orang tua yang memiliki anak remaja.

 

“Pernikahan anak tidak saja memberikan efek bahaya kepada anak dan keluarganya, tetapi juga akan menghambat kemajuan suatu bangsa,” kata dia.

 

Selain itu, pernikahan anak juga mengakibatkan beberapa hal, seperti: anak yang dilahirkan berkemungkinan stunting, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, putus sekolah, hingga kemiskinan.

Posting Komentar

0 Komentar