Studi HCC: Lima Hak Kesehatan Anak Indonesia Belum Terpenuhi


KomnasAnak.com, JEPARA -
Studi terbaru Health Collaborative Center (HCC) mengungkapkan bahwa hak kesehatan anak Indonesia belum terpenuhi. Ini diperparah oleh beberapa tantangan, termasuk pandemi Covid-19.

 

Studi yang terfokus pada permasalahan anak usia 0-18 tahun ini dilakukan melalui metode studi literatur dan divalidasi dengan konsensus ahli dan praktisi.

 

“Dari hasil konsensus diketahui masih ada lima hak kesehatan anak yang belum terpenuhi oleh negara,” kata peneliti HCC Ray W Basrowi saat memaparkan temuan mereka pada media, Kamis (29/7).

 

Lima hak kesehatan tersebut, lanjut Ray, meliputi hak gizi, hak atas pelayanan kesehatan, hak atas pengasuhan, hak pendidikan, dan hak dilahirkan secara selamat.

 

Pertama, tidak terpenuhi hak anak untuk terbebas dari masalah gizi buruk dan gizi berlebih. Ini ditunjukkan melalui banyaknya angka stunting dan anemia serta angka obesitas anak Indonesia.

 

Kedua, hak anak untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan, bahkan pada kesehatan dasar seperti imunisasi.

 

“Tidak lagi bicara soal tumbuh kembang, tapi anak belum mendapat layanan kesehatan umum, imunisasi, dan kesehatan mental. Populasi anak sangat dominan tapi dokter anak masih kurang sekali,” ungkapnya.

 

Ketiga, anak Indonesia belum mendapat pengasuhan optimal dari orang tua. Banyaknya kasus kekerasan fisik, psikis, bahkan seksual menjadi bukti bahwa anak belum bisa tumbuh dengan aman di negaranya sendiri.

 

Keempat, belum layaknya hak pendidikan anak berkorelasi dengan hak kesehatan. Lantaran pendidikan penting untuk memastikan anak bisa tumbuh kembang dengan sehat.

 

Kelima, anak Indonesia belum mendapatkan hak untuk dilahirkan dengan selamat dan hidup.

 

“Angka kematian ibu dan bayi di 30 hari pertama masih tinggi. Bahkan banyak anak Indonesia tidak bisa merayakan ulang tahun pertama mereka,” tutur Ray.

 

Pandemi kian membuat sulitnya kelima hak anak tersebut untuk terpenuhi. bahkan Indonesia menempati peringkat tertinggi untuk kematian anak di dunia.

 

“Keadaan normal saja akses fasilitas kesehatan belum terpenuhi, apalagi di masa pandemi,” ujarnya.

 

Studi HCC pun menyarankan pemerintah untuk segera melakukan intervensi agar kesehatan anak Indonesia bisa terjaga. HCC merekomendasikan pemerintah agar segera mengembangkan integrasi program kesehatan anak, meningkatkan edukasi masyarakat, dan mempercepat pembangunan infrastruktur kesehatan.

 

“Kembangkan fitur telemedicine ramah anak untuk bisa menggantikan pelayanan rutin. Lakukan juga diagnosis lebih awal, tingkatkan kemampuan screening untuk mencegah stunting,” kata Ray.

Posting Komentar

0 Komentar