Dokter Spesialis Anak ini Ingatkan Bahaya Plastik BPA



KomnasAnak.com, JEPARA -
Belakangan ini, Komnas PA terus mengupayakan agar plastik berbahan BPA diberi label. Terutama untuk melindungi anak-anak dari bahaya BPA.

 

Komnas PA berpesan pada orangtua untuk senantiasa berhati-hati memilih wadah makan dan minum plastik bagi anak.

 

Dokter spesialis anak Farabi El Fouz mengungkapkan, pengetahuan bahaya Bisphenol A menjadi sangat urgen. Ini lantaran jika terlalu lama dibiarkan, BPA akan menimbulkan penyakit serius seperti kanker, gangguan hormon, penyakit jantung koroner, diabetes, gangguan kekebalan tubuh, ketidaknormalan enzim pada hati, dan penyakit lain.

 

BPA digunakan sebagai bahan campuran pengeras plastik sehingga plastik tahan lama, kuat, mudah dibentuk. Harganya yang cukup kompetitif juga membuat bahan ini massif digunakan.

 

“Sayangnya, BPA ini juga digunakan untuk plastik kemasan seperti sebagian botol susu bayu, piring, gelas, sendok, dan bahkan mainan anak,” ujar Farabi dalam keterangannya, Rabu (18/8).

 

Farabi mengatakan, pemerintah telah mengatur agar botol bayi, kemasan susu dan alat makan bayi harus BPA free alias bebas dari kandungan BPA.

 

Sayangnya, banyak orangtua masih membuat susu atau bubur bayi dari air yang berasal dari wadah galon isi ulang yang bisa saja mengandung BPA. Padahal, kontak sekecil apapun dengan BPA tidak disarankan bagi bayi, balita, dan ibu hamil.

 

Farabi berharap, pemerintah memberikan label peringatan plastik ber-BPA agar tidak digunakan oleh bayi, balita, ataupun ibu hamil.

 

“Intinya kita berharap pemegang regulasi memperhatikan hal tersebut. Saya perhatikan BPOM sudah mengeluarkan awareness terhadap hal ini (BPA),” ujarnya.

 

Meskipun demikian, Farabi masih menyayangkan kebiasaan untuk memakai plastik tidak sesuai peruntukkannya. Seperti container plastik BPA yang digunakan sebagai wadah menyimpan sayuran.

 

Farabi menegaskan, setiap individu harus mewaspadai goresan di wadah plastik. Sebab goresan tersebut akan membuat zat-zat dalam plastik masuk ke makanan.

 

Dia juga mengusulkan agar restoran perlu logo BPA free dan bagi ibu menyusui agar hanya memberikan ASI ekslusif tanpa perantara plastik. Hal ini untuk menghindari kontak dengan BPA.

 

“Jika mau pakai botol karena dianggap lebih murah, maka pakailah yang free BPA. Ini yang perlu kita kampanyekan,” pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar