Jawab Pertanyaan Anak Seputar Pandemi Kunci Anak Tak Kebingungan dan Stres


KomnasAnak.com, JEPARA -
Psikolog anak dan keluarga Rachel Chalista mengatakan bahwa anak memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar. Apalagi di masa pandemi, anak ingin slalu tahu alasan kenapa sekolah tidak buka dan tidak boleh pergi kemana-mana.

 

Rasa penasaran anak akan semakin besar jika sebelumnya sudah merasakan sekolah dan berpergian liburan. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab orang tua untuk memberi penjelasan kepada anak tentang situasi saat ini.

 

“Ada why besar di kepala anak, kok enggak bisa main sama teman? Kok enggak bisa ke mall? Kok nggak bisa makan kue di luar? Bahkan sampai kok mama atau papa diam di rumah? Apa mama atau papa enggak kerja? Nah pertanyaan-pertanyaan itu bisa jadi belum terjawab hingga saat ini,” jelas Rachel dalam Instagram Live bersama Siloam Hospital, Senin (26/7).

 

Menurut Rachel, anak butuh kejelasan dan jawaban atas pertanyaan mereka. Jika pertanyaan itu tidak terjawab, kata dia, anak akan kebingungan dan rentan tertekan hingga akhirnya stress.

 

“Ketika mereka enggak dapat penjelasan itu, ada why besar di otak anak, mereka jadi kebingungan,” ucap Rachel.

 

Dia juga mengatakan, anak sebenarnya telah sama merasakan menderita sejak awal masa pandemi. Apalagi jika orang tua gagal menjelaskan apa itu pandemi, Covid-19, virus, dan bahayanya pada anak.

 

Menurut Rachel, anak yang tidak diberikan penjelasan soal pandemi pada masa awal akan merasa kebingungan lebih lama. Tidak heran jika ada perubahan perilaku pada anak, seperti jadi lebih mudah marah, agresif, dan tidak mau disiplin waktu.

 

Perubahan suasana hati dan sikap yang lebih agresif disebabkan karena anak sudah bersabar dalam waktu lama, namun masih tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaan mereka. Kebingungan dan tekanan tak bisa melakukan apa yang diinginkan membuat anak jadi lebih mudah emosi.

 

“Orang tua harus mengapresiasi anak-anak mereka karena masih bisa bertahan sampai hari ini. Anak-anak juga ikut dalam survival mode di saat pandemi Covid-19,” ucap Rachel.

 

Dia mengungkapkan, bukan tidak mungkin anak merasa stress saat menghadapi pandemi. Jika anak belum bisa berkomunikasi dengan baik, maka peran orangtua sebagai observer sangat dibutuhkan.

 

Orangtua harus melihat perkembangan mental dan fisik anak tanpa memberikan judgement atau labelling. Komunikasi orangtua dengan anak juga harus mulai ditumbuhkan kembali di masa pandemi.

 

“Orangtua bisa mulai dari memberikan penjelasan pada anak, karena sekarang banyak informasi yang sudah terbuka soal Covid-19, kemudian lihat keadaan anak, apa dia sanggup untuk melakukan aktivitas daring? bicarakan apa saja kesulitannya dan ajak anak bernegosiasi,” tutur Rachel.

Posting Komentar

0 Komentar