Ribuan Anak jadi Korban Kekerasan Selama Pandemi


KomnasAnak.com, JEPARA -
Kekerasan terhadap anak terus terjadi selama pandemi. Data dari Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos)/pendamping Rehabilitasi Sosial mengungkap jumlah anak bermasalah sosial yang telah ditangani Kemensos sejak Januari hingga Juli 2021 mencapai 8.021 anak.        

 

Dari data tersebut, sebanyak 304 anak mengalami kekerasan fisik dan psikis, 2.131 anak menjadi korban kekerasan seksual, 96 anak dieksploitasi secara ekonomi dan seksual, 53 anak menjadi korban penculikan, penjualan, dan perdagangan.

 

Kemudian, 597 anak menjadi korban perlakuan salah dan penelantaran, 16 anak menjadi korban pornografi, 15 anak menjadi korban stigmatisasi, dan 3.386 lainnya merupakan anak yang berhadapan dengan hukum.

 

Dari anak korban kekerasan seksual, 28 diantaranya hamil dan sudah mendapat penanganan Kemensos. Khususnya oleh pekerja sosial spesialis anak dan psikolog anak.

 

Untuk itu, Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan upaya perlindungan dan pemenuhan hak anak korban kekerasan dari lingkungan internal dan eksternal masa pandemi.

 

“Kita sadari bahwa tren kasus kekerasan terhadap anak meningkatkan selama situasi pandemi. Oleh karena itu, saya ingin memastikan semua anak korban kekerasan tetap terlindungi dan terpenuhi hak-haknya, kita terus upayakan dengan berbagai cara agar jumlah ini tidak terus-terusan meningkat,” kata Menteri Sosial Tri Rismaharini dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/8/2021).

 

Menteri Risma mengatakan, setiap laporan yang diterima pihaknya akan langsung di respon. Kemudian dilakukan asesmen terkait kebutuhan dan masalahnya agar anak bisa ditangani secara cepat dan tepat.

 

“Anak-anak yang menjadi korban kekerasan kita penuhi haknya melalui Atensi Anak didampingi oleh Pekerja Sosial, psikolog, dan professional lain. Mereka kami periksakan juga ke dokter. Untuk anak yang hamil, kami pastikan anak dan kandungannya sehat dan kami dukung anak untuk tetap melanjutkan sekolah. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak larut dalam masalahnya dapat kembali berfungsi sosial seperti sedia kala,” kata Risma.

 

Risma menegaskan, penanganan masalah kekerasan anak adalah tugas bersama. Di situasi sekarang ini, anak rentan menjadi korban kekerasan baik secara fisik, verbal, maupun melalui media sosial. Sehingga harus dicegah agar anak-anak tidak menjadi korban dengan alasan apapun.

 

“Saya meminta semua UPT Ditjen Rehabilitasi Sosial dan semua pendamping Rehabilitasi Sosial untuk bekerja optimal memastikan perlindungan untuk semua anak,” ujar Risma.

Posting Komentar

0 Komentar