Sering Salah, Ini Perbedaan Anak Stunted dan Stunting


KomnasAnak.com, JEPARA -
Anak-anak Indonesia dihadapkan oleh kondisi kurangnya tinggi badan (stunted) dan stunting. Mungkin banyak yang salah paham, tapi nyatanya kedua kondisi tersebut merupakan dua hal berbeda.

 

Dilansir dari laman Ruang Guru Paud Kemendikbudristek, stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi di seribu hari pertama kehidupan anak. Kondisi stunting berefek jangka panjang sampai anak dewasa dan lanjut usia.

 

Stunting bisa saja terjadi karena kekurangan gizi saat anak masih di kandungan. Ini dapat mengakibatkan pertumbuhan otak dan organ lain terganggu, hingga anak rentan diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung. Pertumbuhan otak yang tidak maksimal akan menyulitkan anak nantinya.

 

Sementara, stunted adalah kondisi anak memiliki tubuh pendek tapi belum tentu mengalami gagal tumbuh. Sebab anak stunted mengalami pertumbuhan fisik dan mental normal layaknya anak lain.

 

Anak stunted tinggi badannya kurang dari rata-rata anak seusianya sehingga terlihat mencolok. Anak dengan tubuh pendek tak mengalami peningkatan risiko mengalami penyakit degenerative atau penurunan fungsi otak. Seiring waktu, anak yang bertubuh pendek bisa menyusul tinggi teman-temannya.

 

Stunted dan stunting sama-sama memiliki tubuh yang pendek. Namun secara medis kedua kondisi tersebut berbeda.

 

“Stunted (pendek) itu yang diukur, di Indonesia masih menggunakan stunted. Sedangkan yang namanya stunting itu ada ikutan-ikutannya, ada sebab akibatnya maka dikatakan stunting dan bisa dikoreksi dalam 1000 hari kehidupan pertama karena potential growth tercipta di 1000 hari kehidupan pertama,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Hasto Wardoyo, melansir dari laman Ruang Guru Paud.

 

Definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan adalah anak balita yang nilai z-skor nya kurang dari -2.00 SD/standari deviasi (stunted) dan kurang dari -3.00 SD (severely stunted).

 

Sedangkan stunted dan sangat pendek adalah balita panjang badan (PB/U) atau tinggi badam (TB/U) menurut umurnya kurang dibanding dengan standar baku WHO multicenter growth reference study tahun 2006.

 

“Di posyandu sekarang hanya mengukur pertumbuhan panjang dab berat tanpa mengukur perkembangan sebagai pendekat, apalagi dikaji lebih ilmiah ukuran di Indonesia itu berbeda dengan standar internasional, seperti stunted di Indonesia kurang dari 2 standar deviasi, tapi internasional juga berbeda dengan di Indonesia,” kata Hasto.

 

Stunted dan stunting dapat dibedakan dengan memperhatikan kondisi keluarga. Anak dengan tubuh pendek biasanya terlahir dari orangtua yang tidak terlalu tinggi. Hal berbeda biasanya dijumpai pada anak stunting yang terus mengalami keterlambatan tumbuh.

 

Anak stunting biasanya tumbuh lebih lambat sekitar 4 sentimeter tiap tahun di masa pra pubertas. Anak stunting juga mengalami keterlambatan masa puber yang biasanya di usia 15 tahun.

Posting Komentar

0 Komentar