Kemensos Pastikan Pengasuhan dan Bantuan bagi Anak yang Kehilangan Orangtua karena Covid-19


KomnasAnak.com, JEPARA -
Pemerintah memastikan anak yang kehilangan orangtua akibat Covid-19 mendapatkan pengasuhan, utamanya dalam keluarga. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Rehabilitasi Sosiaal Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat.

 

“Anak (yatim, piatu, atau yatim piatu) mengalami kondisi sulit. Dari sisi pengasuhan, ada risiko anak tidak ada yang mengasuh sama sekali. Atau ada anak sulung yang jadi pengasuh, atau ada anggota keluarga besar yang mengasuh,” ujar Harry di Jakarta, Rabu (8/9/2021).

 

Kemensos menyelenggarakan layanan integrative berbasis keluarga melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) Anak.

 

Atensi anak adalah layanan rehabilitasi sosial yang menggunakan pendekatan berbasis keluarga, komunitas, dan/atau residensial.

 

Program ini memberi dukungan untuk pemenuhan kebutuhan hidup layak, perawatan sosial dan/atau pengasuhan anak, dukungan keluarga, terapi fisik, terapi psikososial.

 

Selain itu turut memberikan terapi mental spiritual, pelatihan vokasional, pembinaan kewirausahaan, bantuan sosial, dan asistensi sosial, serta dukungan aksesibilitas.

 

“Karenanya, inti sistem atau program yang dibangun adalah pengasuhan, terutama keluarga dan keluarga pengganti sebagai alternatif, maupun pengasuhan dalam lembaga,” kata dia.

 

Harry mengatakan, untuk mengurus anak yatim, piatu, dan yatim piatu bukan sekedar memberikan bantuan sosial. Melainkan juga terintegrasi dengan layanan berkelanjutan, seperti yang terdapat dalam bisnis proses bantuan Atensi Anak.

 

“Seperti arahan Menteri Sosial, mereka tidak hanya diberikan dukungan terhadap kebutuhan fisik, tetapi juga dukungan psikososial, pengasuhan, dan keberlanjutan pendidikan mereka,” jelasnya.

 

Untuk itu, Kemensos akan memastikan anak yang kehilangan orangtuanya karena Covid-19 nantinya tidak tergantung pada bantuan berupa uang.

 

“Ada skema lain yang perlu kami bangun bahwa mereka juga harus mempunyai masa depan yang lebih baik dan mandiri,” katanya.

 

Penyaluran bantuan Atensi Anak bergantung dari pendataan anak melalui dinas sosial (dinsos) kabupaten/kota/provinsi.

 

Data itu meliputi status orangtua, keberadaan wali, hingga bantuan yang diterima anak seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk melihat anak tersebut dari keluarga kurang mampu dan rentan.

 

“Informasi dasar demikian yang kami perlukan,” kata Harry.

 

Selain itu, data juga didapat dari laporan masyarakat, Telepon Sahabat Anak (TePSA), Direktorat Anak, dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemensos, dinas kesehatan dan dinas lainnya, serta kerja sama kementerian atau lembaga lainnya.

 

“Semuanya harus sepengetahuan dari dinsos. Harus dipastikan bahwa data yang diolah adalah data yang diusulkan dari pemerintah daerah secara berjenjang,” terangnya.

Posting Komentar

0 Komentar