Perlukah Indonesia Meniru Cina Soal Aturan Gim Daring?


KomnasAnak.com, JEPARA -
Cina akhir-akhir ini mengejutkan dunia internasional dengan serangkaian aturan kontroversinya. Salah satunya adalah aturan pembatasan gim daring bagi anak di bawah 18 tahun.

 

Melalui peraturan ini, pemerintah Cina membatasi permainan gim daring bagi anak-anak menjadi maksimal tiga jam seminggu. Itu adalah satu jam di masing-masing hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari libur.

 

Pemerintah Cina menamai aturam mereka ini sebagai perang melawan electronic drugs (narkoba elektronik). Memperhatikan sifat gim daring itu sendiri yang membuat kecanduan seperti narkoba sehingga harus dicegah.

 

Johnny Luk, seorang penulis di Al Jazeera mengungkapkan, perusahaan gim daring meraup keuntungan tinggi setelah pandemi. Lantaran konsumen anak-anak yang menghabiskan waktu lebih banyak bermain gim.

 

Perkembangan zaman sudah mengubah pola bergaul anak dari bermain dengan teman menjadi bermain dengan gawainya. Ini diperparah dengan kehidupan sosial yang sekarang sangat bergantung pada internet dan gawai.

 

“Masalahnya adalah, lebih dari membuang-buang waktu berharga yang bisa anak alokasikan untuk berteman, melakukan aktivitas fisik atau belajar. Kecanduan gim daring bisa menyebabkan masalah kesehatan serius,” ungkap Luk.

 

Tujuan dari aturan ini sebenarnya sangat baik, apalagi di masa pandemi, anak malah lebih sering memainkan gim daring daripada belajar.

 

Kondisi kecanduan gim daring juga cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Banyak anak yang rela berbaris di Balai Desa atau fasilitas umum yang menawarkan wifi gratis hanya untuk bermain gim.

 

Belum lagi jumlah anak yang membeli fitur gim dengan uang tak main-main nominalnya. Salah satu contoh adalah kisah viral seorang ayah yang marahi kasir Indomaret karena anaknya top-up gim senilai Rp 800.000 pada Maret 2021 lalu.

 

Kecanduan gim pun telah menjadi gangguan jiwa. Banyak anak yang harus menjalani terapi karena mengalami kecanduan gim daring. Seperti ratusan anak yang harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Cisarua.

 

Sepanjang 2020, RSJ Cisarua menerima 98 anak rawat jalan, sedangkan pada Januari-Februari 2021 sudah mencapai 14 anak. Ratusan anak ini murni mengalami gangguan kecanduan terhadap internet dan games.

 

Dibukanya sekolah tatap muka merupakan salah satu cara yang ditempuh pemerintah agar anak mulai mengurangi penggunaan gawai. Meskipun begitu, sistem blended masih menyisakan banyak anak terjebak dalam candu gim.

 

Karena itu, mungkin sudah saatnya pemerintah Indonesia mengadopsi peraturan Cina untuk melindungi anak-anak. Pemerintah harus mengambil langkah tegas dengan aturan pembatasan penggunaan gims dan batasan usia.

Posting Komentar

0 Komentar