Kapolsek Parigi Bantah Asusila pada Anak Gadis Tersangka, Ombudsman Akan Kawal Kasusnya

Kapolsek Parigi, Iptu I Dewa Gede Narate

KomnasAnak.com, Jepara -
Dugaan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh Kapolsek Parigi, Iptu I Dewa Gede Narate memasuki babak baru.

 

Sang Kapolsek mengaku tidak pernah berhubungan badan dengan gadis berinisial S atau anak tersangka.

 

Dalam pernyataannya melalui video berdurasi 2.33 menit pada Rabu (20/10/2021), Kapolsek membantah adanya tuduhan persetubuhan dengan S atau anak tersangka kasus pencurian hewan. Apalagi sampai memberi iming-iming kebebasan ayahnya, jika S mau menuruti permintaannya.

 

“Tidak ada, tidak itu, kalau uang memang saya kasi, tapi kejadian bukan seperti itu,” kata Kapolsek.

 

Kapolsek juga membantah kalau dirinya memberi iming-iming kebebasan kepada ayah korban jika ingin tidur bersama.

 

Menurutnya, kasus yang menimpa ayah S memang ditangani Polsek Parigi. Namun tahapannya sudah sampai di proses tuntutan pengadilan. Sehingga tidak punya wewenang lagi untuk mencampuri proses hukumnya.

 

“tidak ada, todak ada itu, saya tahu ayahnya memang saya tangani, tapi sudah tuntutan. Saya sekarang mau bilang apa, sudah tuntutan di kejaksaan, mau janjikan bagaimana alasan begitu kan,” ujar Kapolsek.

 

Meski membantah adanya tuduhan tersebut, Kapolsek mengakui mengirim chat mesra kepada anak tersangka.

 

Kapolsek Parigi telah dicopot oleh Kapolda Sulawesi Tengah. Namun ini tidak menghentikan pengusutan dugaan tindak asusila ini.

 

Dengan langkah ini, Ketua Ombudsman Sulawesi Tengah Sofyan Farid Lembah memberikan apresiasinya. Dia mengatakan pihaknya akan mengawal kasus ini hingga selesai.

 

“Ombudsman Sulawesi Tengah memberi apresiasi Kapolda yang telah menegaskan lanjutnya kasus ini di Dirpropam Polda Sulteng saat mengunjungi keluarga korban di Desa Mertasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Muotong,” ungkap Sofyan melalui siaran pers pada Rabu (20/10/2021).

 

Menurutnya, kasus ini tidak bisa dibiarkan karena bisa berkembang liar di masyarakat dan bisa menjadi kasus SARA.

 

Prof Amzulian Rifai, mantan ketua Ombudsman RI yang kini menjadi wakil ketua Komisi Yudisial RI bahkan secara khusus meminta Ombudsman Perwakilan Sulawesi Tengah untuk mengawal kasus ini.

 

“Potensi gawat ini, perlu dikawal dan berharap Ombudsman kawal kasus sensitif ini,” kata Sofyan mengutip pesan Profesor Amzulian kepada Ombudsman Sulteng.

 

Sejak kasus ini mencuat, Sofyan sudah berkomunikasi dengan Irasda Polda Sulteng untuk meminta perhatian khusus.

 

“Saya berharap segera kasus ini disidangkan dan pelaku segera dipecat bila secara hukum kasusnya inkracht. Polisi mesum seperti ini tak layak tinggal di bumi Tadulako ini. terhadap korban, saya berharap Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten dan Provinsi bukan saja melakukan pendampingan hukum dan psikologi akan tetapi juga melakukan pemulihan repsikososial terhadap korban,” kata Sofyan.

 

“Kasus ini akan kami kawal,” tambahnya.

Posting Komentar

0 Komentar