Kemen PPPA Ungkap Perkawinan Anak Bisa Akibatkan Stunting

ilustrasi bayi stunting

KomnasAnak.com, Jepara -
Staf khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bidang Anak Ulfah Mawardi mengungkapkan permasalahan stunting di Indonesia erat kaitannya dengan perkawinan anak.

 

Ini ditunjukkan melalui tingginya prevalensi stunting di daerah yang tingkat perkawinan anaknya tinggi pula.

 

Karena itu, Ulfah menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat luas untuk mencegah stunting dan perkawinan anak.

 

Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah perkawinan anak.

 

“Pencegahan perkawinan anak sangat beririsan dengan pencegahan stunting. Hal ini disebabkan karena kondisi anak yang diharuskan menikah, baik secara usia, pendidikan, maupun kesehatan reproduksinya belum siap,” ungkap dia, Kamis (7/10).

 

Akibat ketidaksiapan tersebut, akan ada risiko stunting yang mengikuti bayi mereka.

 

Apalagi dengan mental yang belum dewasa, anak akan rentan menjadi korban kekerasan.

 

“Sehingga ketika mereka hamil dan melahirkan, baik dalam pemenuhan gizi maupun aspek kesehatan anak yang dilahirkan berisiko besar mengalami stunting,” tambahnya.

 

Dia menuturkan, Kemen PPPA tengah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencegah stunting. Seperti kolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi maupun Kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

 

“Program wajib belajar 12 tahun diharapkan dapat dijalani anak-anak kita, sehingga sampai di Perguruan Tinggi nanti anak dapat memahami persoalan stunting dan upaya mencegahnya,” tambah dia.

 

Kemen PPPA juga menyediakan layanan call center Sahabat perempuan dan Anak (SAPA) 129 serta melakukan program pemberdayaan perempuan di tingkat desa. Layanan dan program ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan edukasi terkait pencegahan stunting dalam masyarakat, sekaligus mendukung program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).

Posting Komentar

0 Komentar