Komnas PA Soroti Anak Korban Kekerasan Seksual Lebih Pilih Lapor Media Sosial Ketimbang Polisi

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait

KomnasAnak.com, Jepara -
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti aduan anak yang menjadi korban kekerasan seksual ke media sosial. Pilihan untuk lebih memilih mengadu ke media sosial mengindikasikan kekecewaan korban pada kepolisian.

 

Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait menyampaikan bahwa sikap korban yang lebih memilih melapor ke media sosial merupakan tamparan bagi para penegak hukum, terutama Polri.

 

Arist memberi contoh kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oknum Kapolsek Parigi di Sulawesi Selatan terhadap seorang anak perempuan berusia 16 tahun yang merupakan anak seorang tersangka.

 

Kasus ini mencuat setelah korban menceritakan apa yang dialami ke satu media massa bahwa oknum Kapolsek menjanjikan ayahnya yang ditahan karena kasus pidana akan dibebaskan jika mau diajak tidur.

 

Kemudian kasus oknum polisi di Maluku Utara yang diduga memperkosa seorang remaja perempuan berusia 16 tahun pada akhir bulan Juni 2021 lalu di Polsek Jailolo Selatan Polres Ternate.

 

“Lagi-lagi kasus ini diketahui masyarakat setelah korban atas bantuan media menjadi perhatian publik dan viral di media sosial. Kasus ini membuat amarah Kapolda Maluku Utara,” ungkap Arist, Senin (18/10/2021).

 

Menurutnya, itu hanya segelintir kasus dari banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak yang baru ditangani setelah korban curhat di media sosial lalu viral.

 

Anak korban kekerasan seksual lebih memilih melapor ke media sosial sebab laporan mereka ke pihak kepolisian justru kerap diabaikan karena dianggap kurang bukti.

 

“Banyak penyidik polri mengabaikan hak-hak korban hanya karena kurang bukti. Padahal diketahui bahwa kejahatan seksual selain merupakan tindak pidana tersembunyi juga adalah tindak pidana luar biasa,” tuturnya.

 

Dia mencontohkan, dalam beberapa kasus pihak kepolisian hanya menyarankan korban untuk menyelesaikan masalah kasus kekerasan seksualnya secara musyawarah dengan aparat tingkat kelurahan hingga pengurus RT/RW.

 

Bila ini dibiarkan, maka akan lebih banyak anak korban kekerasan seksual yang lebih memilih lapor ke media sosial ketimbang ke polisi.

 

“Peristiwa-peristiwa kejahatan seksual tidak akan menampar wajah penegakan hukum di Indonesia seperti yang terjadi di Luwu Timur, di Ternate, di Medan jika penegakan berkeadilan dan korban tak takut lapor polisi,” terangnya.

 

Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak semakin bertambah setiap tahun dan mendominasi sehingga butuh perhatian khusus.

 

Tercatat, dari 465 kasus pelanggaran hak anak yang diadukan ke Komnas PA sepanjang tahun 2021, 52 persen diantaranya merupakan kasus kejahatan seksual pada anak.

 

Dari kasus itu, 06,52 persen dilakukan oleh oknum polisi dan 28,08 persen korban lebih percaya melaporkan kasusnya melalui media sosial karena pertimbangan pribadi.

 

“Sesungguhnya jika laporan korban kurang lengkap dan memerlukan bukti, seyogyanya penyidik ikut membantu melengkapi, bukan menolak laporan. Membantu menemukan saksi yang melihat juga memfasilitasi visum korban,” ungkapnya.

Posting Komentar

0 Komentar