Waspadai Cyberbullying dengan Pendampingan dan Pembatasan Gawai


KomnasAnak.com, Jepara -
Pembatasan screentime gawai nyatanya bisa mencegah anak dari perundungan daring. Ini dikatakan oleh Psikolog Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia).

 

“Memberikan edukasi terkait apa itu cyberbullying. Ketiga, membatasi konten dan aplikasi pada gawai. Dan keempat, menjadi contoh dalam berperilaku digital yang baik,” kata Anna, Minggu (3/10).

 

Jumlah anak yang mengalami cyberbullying sangat banyak. Dari survei UNICEF, hampir setengah remaja dan dewasa muda pernah mengalami cyberbullying.

 

“Sebanyak 45 persen dari 2.777 anak muda usia 14-24 tahun pernah mengalami cyberbullying. Menurut survei UNICEF U-Report 2021,” kata dia.

 

Menurut Anna, anak melakukan cyberbullying karena ingin merasa kuat, harga dirinya rendah, kurang empati, ingin popular, dan tidak sadar dampak dari perlakuannya.

 

Dia membagikan beberapa ciri seorang korban cyberbullying. Pertama, ada kecenderungan untuk menarik diri, mudah emosi, jadi pendiam, dan tidak mau bersosialisasi.

 

“Kedua, mengganti akun media sosial, dan ketiga tidak lepas dari gawai kehilangan minat melakukan kegiatan lain,” ujar dia.

 

Founder Yayasan Sejiwa, Diena Haryana mengatakan media daring memberi banyak dampak negatif bagi anak. seperti kecanduan, cyberbullying, eksploitasi seksual, serta penipuan daring.

 

“Dampaknya sangat besar, membekas hingga jangka panjang karena rasa malu yang ditimbulkan mengingat postingan buruk terhadap dirinya telah disaksikan ribuan orang netizen,” kata Diena.

 

Banyak korban bullying memilih diam. Padahal bukan hanya sebatas malu, korban bisa depresi hingga memilih bunuh diri.

 

Diena menghimbau jika menemui teman yang menjadi korban, maka hendaknya diberi dukungan dan semangat, serta mengajaknya melapor pada guru atau orangtua.

 

“Sebagai orang tua, kita arahkan anak untuk memblok pelaku dan melaporkannya melalui media sosial. Kita juga dapat mengalihkan anak dari media sosial melalui kegiatan lain seperti hobi, berlibur maupun hal kreatif lainnya. Bila sudah semakin parah dampaknya, segera konsultasikan anak kepada ahlinya untuk mendapat tindakan terbaik,” kata dia.

Posting Komentar

0 Komentar