Akibatnya Bila Orangtua Tidak Mengontrol Lidah Dihadapan Anak


Banyak orangtua tidak sadar ucapannya membuat mental anak terpuruk. Kadang berdalih sebagai motivasi dan harapan. Mereka tidak sadar, ekspektasi yang ditanamkan pada anaknya itu toxic dan berbahay bagi anak. Simak bagaimana kata tidak pantas mempengaruhi psikologi anak.

KomnasAnak.com, Jepara - Nana adalah siswa periang dan cerdas. Dia sering menjuarai perlombaan dan dimintai tolong oleh gurunya. Berkat pretasinya, Nana menjadi terkenal di sekolah.

 

Namun dibalik itu, Nana punya kekurangan di bidang matematika dan fisika. Bicaranya pun lirih pada lawan bicaranya, bahkan sering gemetar hebat saat bicara di depan umum.

 

“Saya orangnya terlalu perasa dan penakut. Sering sekali saya merasa kalau saya tidak bisa. Dan itu membuat saya semakin malu berhadapan dengan orang. Saya takut tidak bisa memberikan yang terbaik. Setiap mau apa-apa selalu saya pikir benar atau nggak. Tiap selesai bicara selalu saya merenung memikirkan kata-kata saya,” cerita Nana.

 

Siswa sekolah menengah atas ini tidak begitu handal berhitung matematika. Akibatnya, orangtuanya sering meledeknya.

 

“Kadang itu kalau nilainya jelek dibilang nilai kok nol. Kadang kalau nilainya nggak terbaik itu ditanya kenapa kok nggak bisa jadi yang terbaik, begitu,” ungkapnya.

 

Sedari kecil, Nana dihadapkan dengan ledekan orangtuanya. Sehingga suatu ketika psikologinya terpengaruh. Dia menjadi percaya kalau dirinya tidak pintar. Bahkan sampai lupa matematika.

 

Nana di titik terendahnya benar-benar lupa pada perhitungan dan cara untuk bicara di hadapan orang banyak. “Saya satu tambah satu nggak tahu jawabannya apa. Saya tahu jarinya bagaimana, tapi tidak tahu itu berapa,” tambahnya sambil memeragakan jarinya menghitung.

 

Bentuk Kekerasan Verbal

Terkadang, orangtua menggunakan kata-kata “kenapa nilai nol” atau “kenapa tidak bisa jadi terbaik” dan “kamu seharusnya bisa jadi lebih bagus” dengan alasan untuk menyemangati anaknya. Kata itu, saking seringnya, dianggap biasa oleh orangtua.

 

Tanpa disadari, orangtua sudah melakukan kekerasan verbal. Yaitu kekerasan melalui perkataan yang menyakiti hati dan mempengaruhi psikologi.

 

Mungkin beberapa orangtua menganggap itu sebagai sarana menyemangati anak, tapi yang anak rasakan adalah ledekan dan hinaan. Sehingga mereka yang perkembangan mentalnya sedang sangat pesat akan mudah menerima dan terpengaruh.

 

Psikologi anak sangat berbeda dnegan psikologi orang dewasa. Hari ini orangtua meledek anaknya, besok dia akan lupa. Tapi anak akan mengingatnya dalam waktu yang lama.

 

Dr. Bess de Guia seorang konsultan psikiater dari University of Santo Tomas, Filipina dalam laman Philippine Daily Inquirer seperti dilansir dari fidokids.com mengungkapkan, kekerasan verbal dapat membekas dan merusak anak dalam waktu yang lama.

 

Lebih lanjut, Guia menjelaskan gangguan yang dialami anak dapat berupa post-traumatic stress disorder, gangguan panik, dan gangguan kecemasan.

 

Banyak anak mengalami kekerasan verbal menyangkut penampilan, kecerdasan, sampai tentang keberadaan itu. Sering pula ujarang yang diutarakan karena kesal anaknya tidak mencapai ekspektasi orangtua.

 

Contoh paling baik dalam mendidik anak adalah melalui pendekatan cinta kasih.

 

Seperti didikan yang dirasakan oleh Danang. Suatu waktu sepulang sekolah SMP dia bersama teman-temannya patungan untuk membeli rokok.

 

Setelah sampai rumah, ibunya memergoki Danang bau rokok. Dia pun meminta agar anaknya bercerita dengan nada rendah.

 

Danang menuturkan, ibunya memeluk dan mencium pipinya. Melihat itu, dirinya sadar kalau dia keterlaluan dan bertekad tidak merokok.

 

“Ibu saya minta jangan ngerokok lagi. Katanya takut. Itu yang buat saya nggak mau merokok,” ungkapnya.

Posting Komentar

0 Komentar