Pendekatan Psikologis Dibutuhkan, Anak Pelaku Kekerasan Harus Dapat Penanganan

ilustrasi anak pelaku kekerasan

 KomnasAnak.com, Nasional - Sudah saatnya anak yang berhadapan dengan hukum ataupun anak sebagai pelaku kekerasan mendapat penanganan.

 

Hukuman seperti penahanan bukan solusi sebab latar belakang perilaku anak tersebut harus diselidiki melalui pendekatan psikologis.

 

Psikolog klinis Ida Nur Faizah menjelaskan, perilaku agresif pada anak berkaitan dengan tahap perkembangan. Yaitu tahap pencarian jati diri.

 

“Mereka suka eksplorasi. Dilihat dari emosi, regulasinya masih dalam tahap menggebu-gebu,” paparnya pada Kamis (11/11/2021).

 

Pada tahap itu, anak lebih menyukai tantangan dan punya emosi tidak stabil. Oleh karenanya anak sangat membutuhkan rangkulan, terutama dari orangtua.

 

“Biasnaya, alasan mereka melakukan kekerasan (justru) salah satu yang paling banyak dari keluarganya,” ungkapnya.

 

Kurangnya perhatian dan sikap permisif orangtua biasanya akan mempengaruhi. Terutama lingkungan pergaulan anak.

 

“Pola asuh permisif ini membuat ortu tidak tahu anaknya ngapain. Perilaku anaknya seperti apa. Bahkan lebih sering terserah (tidak peduli pada) si anak,” sebutnya.

 

Dia menerangkan, menurut penelitian mayoritas anak yang melakukan kekerasan bukan berasal dari keluarga yang kurang secara finansial. Umumnya, mereka justru berkecukupan.

 

“Ortunya tidak aware anaknya tidak butuh uang, tapi butuh perhatian dan kasih sayang. Sedangkan dalam tanda kutip (orangtua) seperti membeli (kebahagiaan anak) dengan uang,” kata Ida.

 

Untuk itu, Ida meyakini bahwa anak sebagai pelaku kekerasan butuh pendampingan psikologis. Bukan dengan penahanan yang seperti selama ini dilakukan. Apalagi penghakiman massa.

 

“Mereka (pelaku) butuh pendampingan psikologi. Kita kerja, kalau ingin memperbaiki sesuatu, harus tahu akarnya. Otomatis dari psikologi akan tanya alasan mereka melakukan kekerasan. Bagaimana hubungan keluarga, orangtua, dan teman. Ngapain aja. Dari sana akan tahu (akar permasalahan),” jabar Ida.

Posting Komentar

0 Komentar